DUNIA KIM UNANARA
Dunia Ninna Kumara : semua yg aku alami aku curahkan disini.. semua perjalananku dn semua susah senangku. >>> g_schatzy@yahoo.co.id ato di http:/niennakumara.blogspot.com/
Senin, 26 November 2012
Bersyukur untuk Nafas pagi ini
Bagiku hidup adalah untaian cerita penuh makna yang abstrak. Membias dalam keseharian di atas kanvas tanpa warna dasar. Saat bahagia,betapa kanvas itu selalu ingin diwarnai dengan tinta warna-warna pelangi. Namun ketika bersedih, kanvas itu seolah-olah basah akan genangan air dan sulit diwarnai kecuali dengan cipratan lumpur ratapan pilu.
Merangkak,duduk,berjalan lalu berlari ( baca : kiasan tahap-tahap kehidupan ) adalah salah satu fase dalam setiap bentuk kehidupan. Tak ada satupun manusia yang bisa melompati fase tersebut. Alur kehidupan tak pernah berganti meski zaman telah merubah hari dan usang tergantikan pesatnya arus teknologi. Terus bergulir tak berhenti sejenak waktupun saat menggilas kehidupan yang tengah berjalan.
Menangis atau tertawa,hitam atau putih,baik atau buruk,bising atau sunyi hanyalah bagian kecil dari setiap sisi kehidupan. Semua pasti terbagi pada dua sisi, seperti yang telah Tuhan gariskan bahwa segala sesuatu di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan. Maha Besar Kuasa-Nya yang telah menciptakan segala sesuatunya secara sempurna dan berimbang.
Panas mentari yang membakar kulit saat ini membuatku terpaku di sudut bisu. Betapa aku merindukan butiran -butiran bening yang jatuh dari langit dan mampu mendamaikan bumi yang gersang akan rintik air. Semakin ku mengerti bahwa setiap tangisan terkadang mampu meredakan sesak di hati akan sebentuk kegalauan. Tak menutup kemungkinan juga bila bening air di matapun mampu membuat ekspresi kebahagiaan terlihat begitu sempurna.
Menurut pandanganku yang minim akan ilmu pengetahuan ini, sebongkah kehidupan adalah secarik perjalanan bukan tujuan. Hidup hanyalah jembatan yang dibangun oleh-Nya dan ciptakan untuk diwarnai seindah mungkin, bahkan lebih indah dari warna pelangi yang pernah ada. Memang tak semudah mewarnai gambar di atas secarik kertas, namun Tuhan telah anugrahkan sempurnanya akal untuk berpikir dan mencerna bagi manusia sebagai mahluk yang paling mulia diantara mahluk lainnya.
Terus belajar dan berlatih mewarnai langit yang menaungi hari-hari dengan keindahan adalah pembelajaran hidup yang panjang tanpa ujung. Sesekali berhenti untuk menghela nafas dari hiruk pikuk dan hingar bingar dunia yang semakin liar tak terkendali. Sesekali melihat ke belakang untuk menangkap sesuatu yang pernah berarti di masa lalu atau mengenang kebahagiaan sebagai infus hari-hari yang terasa semakin berat seiring bertambahnya usia. Tetapi jangan pernah berhenti untuk terus bermimpi tentang perbaikan kehidupan kita di masa yang akan datang.
Selalu bersyukur atas kehidupan yang Tuhan pilihkan untuk kita adalah salah satu upaya menciptakan keindahan dalam hidup kita. Yakinkan diri dan hati agar tak pernah berhenti berharap bahwa suatu saat nanti setiap jiwa yang hidup Insya Allah akan menemukan sebuah jawaban yang indah pada akhirnya atas perjalanan panjang penuh tanda tanya ini. Tetap semangat, jangan menyerah dan selalu berbaik sangkalah kepada-Nya meskipun pada kenyataannya untuk sedetik ke depan Tuhan tetap saja membiarkan lika liku jalan kehidupan menjadi misterius bagi kita semua. {59}
Catatan Penting :
Menjadi warga Magelang adalah salah satu bagian dari perjalanan hidupku dan aku sangat bersyukur karena Magelang kini menjadi salah satu surga terindah dalam kehidupanku yang tengah berlangsung
APA SALAH JIKA PEREMPUAN MEMILIH MENJADI JANDA?
Apa yang kamu pikirkan jika aku menyebut kata JANDA! Kesendirian, kesepian, kesalahan, atau sebuah kekuatan?
Hal ini pernah aku bahas dengan seorang teman yang mengalami konflik dalam masalah rumah tangganya.
“Apa aku harus cerai Nin”
“Kalau itu memang jalan terbaik ya nggak masalah”
“Aku jadi Janda dong”
“Emang masalah kalo jadi Janda. Kamu punya masa depan. Selama ini aku tahu kalau kamu cari uang sendiri. Suamimu juga jarang ngasih kamu nafkah lahir dan batin. Orang nikah itu cari bahagia Sistr. Aku rasa kamu sudah cukup bertahan”
“Tapi masalahnya janda itu lo Nin. Usiaku baru usia 25 tahun lebih sedikit. Gimana kata orang”
“Bodoh amat! Ingat Sistr! Aku juga seorang single parents”
Dan kami pun terdiam dengan pikiran-pikiran kami masing-masing sambil menikmati segelas kopi. Hingga terbersit sebuah pertanyaan di otakku, “Apa salah jika perempuan memilih menjadi janda?
Ya Sebagai single parent sy hrs bisa survive hidup di lingkungan masyarakat yang masih menganggap seorang janda adalah kaum yang kedua. Dia bisa menjadi seorang ayah, seorang ibu bahkan bisa menjadi seorang kawan bagiku. Saat aku telah menjadi perempuan dewasa kami pernah berbincang dengan seorang ibu yg berstatus janda krn suaminya meninggal.
“Bu….kenapa dulu ibu nggak menikah lagi”
“Ibu nggk mau anak-anak punya ayah tiri”
“Emang ibu nggak tersiksa menjadi seorang janda”
“Sangat tersiksa cantikkkk…….”, beliau tertawa dan menarik hidungku, “Ibu juga perempuan biasa. Tapi ibu yakin bahwa keputusan ibu menjadi janda bukanlah sebuah keputusan yang salah. Ibu sangat bisa menikah lagi tapi tidak ibu lakukan karena ibu bahagia memiliki anak-anak ibu. Lagian kalau ibu menikah lagi, ibu yakin mereka lebih tertarik dengan kalung yang anak-anak obi pakai”. Dan kami tertawa terbahak-bahak bersama.
Dengan berjalannya waktu. Dalam kesendirianku. Dalam kesepianku aku bisa merasakan hari-hari panjang yang dilalui ibu hampir 25 tahun lebih hidup dalam kesendiriannya sebagi seorang janda. Aku bisa merasakannya walaupun aku kadang gk sekuat dn setegar ibu itu!
Kembali pada masalah seorang teman yang ragu memutuskan menjadi janda.
Berbeda kasus dengan ibu yadi seorang janda karena sebuah kematian.
Entah bagaimana aku harus memulainya. Siapa yang tidak ragu jika harus mengungkapkan jati dirinya bahwa ia adalah seorang janda. Seperti membuka aib?. Padahal apa yang salah dari soerang janda? Bukankah itu menunjukkan kalau perempuan yang menjadi janda adalah perempuan yang kuat? Perempuan yang survive? Karena berani memutuskan hidup sendiri tanpa tergantung dari laki-laki. Janda menafkahi diri sendiri bahkan juga beban dengan menanggung anak-anak mereka.
Jadi siapa yang harus dicemooh? Janda-janda yang mampu berdiri sendiri? Atau suami-suami yang tidak bertanggung jawab hingga akhirnya menceraikan mereka?
Bukan perkara mudah menghapus stigma yang terlanjur melekat di masyarakat. Aku sempat berpikir apakah stigma itu di ciptakan oleh laki-laki. Melekatkan cap negative ke dahi para perempuan yang mereka tinggalkan. Supaya para duda mendapat pemakluman dan dengan mudah mencari perempuan-perempuanlebih muda, bahkan masih perawan untuk menjadi istri mereka. Karena janda adalah barang bekas yang tidak layak dibeli lagi. Pikiran yang bodoh!
Keadaan ini pula yang membuat para perempuan memilih tersiksa bertahan menjadi istri dalam suatu perkawinan yang seperti neraka, dari pada bercerai dan mendapatkan julukan JANDA!
Bisa kamu bayangkan seandainya salah satu temanku yang statusnya telah menjadi janda berkata, “Aku bangga menjadi janda! Saya bangga membesarkan putri saya dengan keringat saya sendiri”
Bisa di bayangkan bagaimana reaksi orang yang mendengarkannya? Cibiran dari masyarakat membuat para Janda menjadi takut untuk mengakui statusnya, dan yang lebih parah adalah beberapa dar mereka menelantarkan anak mereka, menitipkan pada saudara, bahkan meninggalkan anak-anak mereka pada panti asuhan. Atau yang lebih parah membunuh mereka. Menjadi janda sudah dimusuhi masyarakat, apalagi janda yang memiliki anak. Jangan salahkan mereka. Stigma masyarakat yang menganggap mereka kaum marginal membuat mereka tertekan dan berbuat nekat.
Perempuan memusuhi kaumnya sendiri. Sering terjadi, jika kita memiliki tetangga baru dan statusnya adalah seorang janda bagiaman reaksi para perempuan disana? Hahahahahahaha…….jangan memberikan sebuah pembelaan.
Padahal seharusnya para janda itu mendapatkan bintang tanda jasa atas ketegaran dan ketangguhan mereka. Ah Ibuku……Lets make it simple and easy.
Saat menulis ini tiba-tiba ada pesan masuk di YM-ku
“Nin….menurutmu jika aku menikahi temanmu setelah ia bercerai apakah salah”
Aku diam tidak bisa menjawabnya sampai beberapa kali ia mengirim pesan yang sama
“Walaupun dia janda aku masih bisa menerima”
Kalau seandainya temanku mempunyai anak apakah ia bisa menerima. Akhirnya diskusi panjang lebar dimulai detik ini. Menggali pikiran seorang laki-laki yang ternyata masih bisa menerima status janda. Lalu bagi mereka yang menanggap janda adalah kaum marginal?
“Mengapa perempuan sering menjadi pihak yang dirugikan?”
“Di mata laki-laki janda itu barang bekas…tidak ada yang mau menikahi janda”
“Janda tidak layak dinikahi karena dianggap tidak sederajat”
“Perempuan bercerai dianggap tidak becus, dan dianggap gagal sebagai seorang istri”
“Kalau laki-laki lajang ingin menikahi janda, sudah pasti akan aada kontroversial di dalam keluarga mereka”
“Belum lagi masyarakat mencibir yang menganggap si janda-lah yang menggoda”
Aku benci dengan pemikiran-pemikiran gila itu. I Hate!!!!
“Beda dengan laki-laki yang berstatus duda”
“Masyarakat lebih mengasihi mereka. Dianggap korban karena telah dikhianati dan ditelantarkan istri”
“Coba jika janda yang membawa anak, statusnya akan lebih memalukan lagi”
“Sebaliknya kalau duda yang membawa anak malah dipuji-puji. Dianggap sebagai laki-laki bertanggungjawab, yang memikul nasib anaknya. Bahkan disebut sebagai lelaki yang berkualitas karena dianggap memiliki hati dan normal”
“Pria lajang menikahi janda dianggap sebagi aib”
“Tapi duda dengan mudah dapat menikahi perempuan lajang manapun”
“Kita harus tunjukkan bahwa janda adalah janda-janda yang terhormat”
“Perempuan seharusnya bangga dengan keputusannya menjadi janda”
“Kita harus tunjukkan bahwa janda bisa menghidupi dirinya sendiri”
“Kita harus bisa eksis tanpa laki-laki. Kita harus bisa membuat keputusan-keputusan sendiri untuk mengatasi masalah hidup sendiri”
Sebuah perbincangan yang membuat adrenalinku memuncak pada sebuah ketidak adilan pada perempuan yang memilih keputusan menjadi seorang janda. Lalu apa yang aku harus lakukan. Bicara satu persatu pada semua orang dan berkata, “Please…..jangan berpikir negative tentang janda”.
Ah….sudahlah! aku yakin catatan putihku tentang janda ini akan menimbulkan banyak pikiran yang kontroversi. Yang pasti kita harus belajar menghargai keputusan orang lain memilih melajang, menikah atau pun menjanda.
Fuich…..menulis catatan ini seperti berlari dalam sebuah putaran masa lalu dan masa depan. Untuk mengambil sebuah keputusan yang tepat. Tanpa ada sebuah penyesalan.
Jadi ingat sebuah nasehat dari kawan, “Hidup adalah pilihan ... jadi Yakinkan hati atas pilihan ... satu pilihan yang harus dikorbankan ...”
Ya…apapun keputusannya ada sebuah konsekwensinya termasuk keputusan untuk menjadi janda.
Buat seorang teman yang sedang bimbang, “Kita adalah perempuan. Kita punya kelemahan. Tapi kelemahan kita sebenarnya adalah sebuah kekuatan. Keep Survive Sistr!. Aku percaya kamu pasti bisa. Tak ada yang salah jika kamu memutuskan untuk menjadi janda!”
Catatan kecilku pesembahkan pada Ibu yadi
Janda terhormat yang membuat keluarganya juga terhormat
Pada perempuan-perempuan kuat yang memilih hidup dalam kesendirian dengan manjadi Janda
Pada sebuah kekuatan, pada kelemahan, pada perempuan
Pada lelaki yang masih menghargai keberadaan perempuan yang berstatus seorang Janda
Aku bangga pada keputusanmu! kawan! dan ini catatan terakhir saya pagi ini,waktu sudah menunjukkan jam 02;24 dan sy sudah ngantuk dn mata sy sudah sangat lelah duduk didpn laptop.. karena besok sy libur makanya sy berani begadang malam ini..
tuhan boleh saya meminta
Tuhan boleh saya meminta?
Tolong kirimkan tangan-Mu untuk memeluknya dan
melindunginya
Tuhan boleh aku meminta pada-Mu!
Ijinkan aku melihat dia
walau aku hanya mampu menatapnya dari jauh
dan memastikan dia baik-baik saja
Saya tidak ingin memilikinya karena saya tidak mungkin memiliknya
Ah Tuhan!tolong kabulkan pinta saya!
Agar dia bahagia tanpa saya
Dan saya juga bahagia tanpa dia
SAKIT
Sakit? Iya saya sedang sakit. Dan ini benar-benar sakit. Tidak tau apa penyebabnya. 3 hari suhu badan saya naik turun luar biasa. Kepala juga sangat pusing, belum lagi tenggorokan yang tidak bersahabat dengan makanan. Leher dan kepala seakan menegang.
Sakit di rumah sendirian itu memang tidak asyik. 3 hari saya memaksakan diri untuk ytyap bekerja. Tiap malam saya juga menghabiskan banyak jam di kedai perempatan jalan. Saya pikir saya tidak akan memanjakan tubuh saya. Hingga akhirnya saya benar-benar tidak bisa bangun. Ah… sedangkan sebotol air putih saja tidak ada di rumah ini. Nelangsa? Iya sangat nelangsa. Tidak ada satu orang pun di rumah ini. Terpikir untuk sms Deni untuk membawakan makanan atau minuman. Atau sms mbak yuni untuk di jemput dan di rawat di rumahnya. Atau sms Ika untuk membelikan obat penurun panas. Tapi keegoisan saya masih bicara bahwa saya bisa melawannya sendirian.
Alhasil…… jam 5 shubuh saya menghubungi Mbak Reni dan mengatakan saya sakit. Ditertawakan itu sudah pasti. Saya pasrah saja saat saya di bawa ke puskesmas dan menunggu dokter dengan meletakkan kepala di atas sandaran kursi. Ahhh……. Kenapa saya luar biasa manja di kampng halaman sendiri.
“Radang tenggorokan. Sudah parah. Jangan banyak bicara. Jangan minum dingin. Kopi. Gorengan. Banyak istirahat. Kurangi bergadang dan bla…bla…bla….”
Saya sudah tidak lagi mendengarkan dokter. Saya hanya ingin memejamkan mata dan tidur.
“Tidak perlu di infuse Mbak… hanya istirahat”
Terserahlah… saya hanya butuh tempat tidur.
“Makan Nin….”
“Nggak mbak…. Tenggorokanku sakit. Pait”
Saya memejamkan mata setelah memaksa makan sesuap nasi dan obat.
Sakit…. Iya sakit. Saya ternyata bukan dewa. Ternyata saya hanya manusia biasa yang selama ini terlalu egois. Saya masih bisa tertawa dan melangkah sendiri saat masuk ke ruang operasi. Dan ternyata saya benar-benar seperti ilalang di musim kemarau hanya karena radang tenggorokan.
Dan saya mengucapkan banyak terimakasih pada Tuhan. Saat saya seperti ini, masih ada yang mau menampung saya hingga saya dipastikan sudah sehat dan sembuh.
“Mbak Ren… .. antar Ninaa pulang.
“ La.. arep balik nangendi? Wes sehat beneran ta?”
“Balik nang omah. Aku udah sehat kok. Serius…… Udah nggak panas”
“La kalo panas lagi gimana. La nang kono kan nggak ada orang”
“Tinggal sms lagi suruh jemput?”, saya mejawab sambil nyengir.
Dan akhirnya saya kembali lagi di rumah kosong ini. Saya menikmatinya. Walaupun banyak orang yang melihat kasihan kepada saya. Seorang perempuan galau yang menempati sebuah rumah yang bertahun-tahun kosong sendirian. Ah.. terserah… saya tidak peduli. Toh ini rumah juga rumah saya sendiri. Saya besar di rumah ini.
Masuk kedalam rumah. Lantainya sudah berdebu. Cucian baju saya belum tersetrika. Beberapa bekas botol air meineral dan gelas kosong bekas kopi masih berserak. Saya tersenyum sendiri. Saya selalu menikmati saat saya membersihkan setiap sudut rumah ini. Menyelesaikannya dengan menyiram halaman belakang dan samping seperti saat ibu menemni hari hari saya disini
.
Saya bergerak sangat perlahan…..…. Ketika saya masih harus bersahabat dengan kondisi tubuh saya sendiri. Saya harus jaga kesehatan saya. Ketika agenda beberapa minggu ke depan menumpuk dan harus saya lalui satu persatu. Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik untuk saya.
INTERMEZO
Tiba-tiba saya menikmati sore ini. Dengan otak yang sedikit membeku setelah beberapa hari dipaksa bekerja dan mengalami rasa jenuh yang memuncak.
Saya duduk manis dan menikmati lelaki di depan saya. Dan tiba-tiba saya suka. Heii.... hanya suka. Dia diam, dia bernyanyi, dia duduk, menikmati minumnya. Senyumnya membuat saya tersentak. Senyum itu senyum kamu......... senyum santun dengan sebelah tangan mengusap anak rambutnya sendiri.
Saya menikmati setiap gerak lelaki itu. Berdiri, berjalan, menggerakkan tangan, memiringkan kepala, menggigit bibirnya, bergoyang mengikuti lagu, sambil sesekali meneguk minuman di depannya. Ah.... saya tidak bisa mengetahui apa pesanan minumannya dari sini. Lampu disini terlalu remang.
Saya tidak ingin tau namanya. Saya tidak ingin menghampirinya dan mengatakan, "hai... kau seperti kekasihku dulu". Saya memilih diam dan diam menghabiskan secangkir kopi ini.
Dan kau menyanyi! "Kau cantik hari ini! Dan aku suka........ kau lain sekali dan aku suka............"
Saya tersenyum sendiri. Hai laki-laki untuk siapapun lagu itu aku menikmatinya dan menganggap kau menyanyikan lagu itu untuk ku
Bukankah luar biasa, jika kita perempuan, menikmati laki-laki seperti menikmati sebuah boneka jari yang di mainkan di halaman taman kanak-kanak.
Saya berdiri dan membayar bill. Menangkap sekilas laki-laki yang saya nikmati dengan mata liar. Sambil tersenyum, " ini intermezo"
Melangkah keluar....... hiburan sore ini sudah selesai Nin.........
SUATU PAGI
Kau tau ..... semalaman aku ingin menulis sebuah puisi sederhana untukmu yang hanya berisi 3 kata......
Aku kangen kamu........
Tapi tak ada keberanian, takut kamu tidak mau membacanya.........
Suatu pagi dibelakang rumah saat hujan menjelang akhir
november.
SAYA SUKA ITU SAJA
Saya suka itu saja....... Saya suka senyum mu. Saya suka cara mu berbicara. Saya suka cara mu menenangkan sy. Saya suka cara kamu berjalan. Saya suka cara kamu memarahi saya. Saya suka cara kamu mememiringkan kepala, menggerakkan leher kamu. Saya suka melihat tertawa lebar mu.saya suka melihat kamu tidur Malam itu.
Iya saya suka ... itu saja.
Saya suka.... seperti suka saya pada kupu-kupu yang terbang. Dia lebih indah bebas di alam liar dari pada saya tangkap, lalu saya kurung dalam toples. Memang, dalam toples kupu-kupu itu hanya milik saya. Tapi bukankah yang dinamakan kupu-kupu itu adalah yang terbang di taman, dengan bebas, dengan sayap-sayapnya yang indah. Kalau kupu-kup[u dalam toples, itu namanya kupu-kupu mati.
Saya suka, seperti saya suka berlama-lama duduk di sebuah taman dengan air mancur di tengahnya. Membiarkan satu ada dua titik air membasahi pipi saya. Merah merona. Iya saya tergagap-gagap. Kehabisan kalima-kalimat panjang yang biasanya keluar dengan mudah dari tenggorokannya.
"Lagi kehabisan suara ... abis konser", alasan klise.
Kamu mengatakan saya orang baik. Dan saya juga mengatakan kamu adalah laki-laki yang sangat baik.
Itu saya suka..... karena banyak yang mengatakan saya bodoh atau tolol dengan semua apa yang telah saya kerjakan.
Saya suka, itu saja...... tidak lebih.
"Maaf kan saya telah menulis kamu dalam catatan-catatan saya"
"Kan hanya sekedar intermezo", katamu sambil tersenyum.
Saya balik kanan sambil cengar cengir sendiri, membodoh-bodohkan diri saya. Kenapa harus terlalu jujur mengatakannya.Diam saja sudah cukup kan?
Biar sajalah lah .... saya akan menikmati dia dengan tulisan saya. Tulisan-tulisan baru saya. Karena saya terlalalu lelah menulis hal-hal yang tidak jelas.
Sebentar Nin.... bukan kah dia juga tidak jelas
ah ... tiba-tiba saya suka melihat kamu. Diam... diam.... diam..... Ssssstttt........ jangan lagi beri tahu dia kalau dia adalah tokoh dalam tulisan ini. Nanti... iya nanti... dia juga akan tau.
Karena dia kupu-kupu........... dia bukan milikmu . Biarkan dia terbang bebas dan liar .......
Saya selalu suka siluet wajah kamu diantara gelap dan cahaya laptopmu. Tapi saya tidak punya keberanian lagi untuk duduk manis di kursi saya. Berdiri sambil menelangkupkan tangan di dada.
Saya menikmati mu dari balik pintu..........
Tiba-tiba saya merasa malu padamu .........
Langganan:
Postingan (Atom)






