

Dunia Ninna Kumara : semua yg aku alami aku curahkan disini.. semua perjalananku dn semua susah senangku. >>> g_schatzy@yahoo.co.id ato di http:/niennakumara.blogspot.com/
Ia pun segera naik bis jurusan Solo-Purwokerto. Namun, ia tetap tidak tahu kemana tujuannya itu. Di dalam bis, ia melihat seorang perempuan berjilbab. Dan seorang pemuda pun duduk di sebelahnya. Tak lama kemudian pemuda dan perempuan itu mulai berkenalan. Iqbal mendengarkan pembicaraan mereka karena memang jaraknya sangat dekat. Dan tanpa disangka-sangka, mereka kian dekat, bahkan sang perempuan pun menyandarkan kepalanya kepada sang pemuda itu, padahal perempuan itu berjilbab. Mereka pun saling berpegangan dan semakin bermesraan. Wah-wah udah mulai nggak bener nih…
Iqbal pun teringat pada sebuah ayat AlQuran yang berbunyi:
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). QS. An-Nur:26.
Ia pun teringat akan Aisyah. Ia teringat akan tudingan para sahabatnya bahwa ia telah berkhalawat dengan Aisyah, tudingan yang menjadi bagian hujjah yang mengadilinya sehingga dirinya harus meninggalkan Tegal Jadin. Seandainya mereka ada disini, ingin sekali Iqbal mengatakan kepada mereka semua: inilah sejati-jatinya khalwat itu. Inilah khalwat itu. Ialah dua insan laki-laki dan perempuan yang berasik-masyuk seperti kedua orang ini. Inilah makna “berdua-duaan yang diharamkan” itu. Iqbal pun menangis.
Iqbal pun berkenalan dengan seorang pemuda yang bernama Anton. Mereka akhirnya berdiskusi tentang Islam. Ternyata agama Anton adalah Agama Cinta. Wah macem-macem ajah nih.. namun di akhir diskusi, Iqbal merasa menang.
Dan tiba-tiba bis pun mogok, mereka semua turun. Iqbal hanya diam saja. Sudah satu jam ia sholat dan berdoa kepada Allah. Ia kembali teringat akan kesalahan besar di masa lalunya. Anton pun menegurnya dan ia pun kagum terhadap Iqbal.
Mereka pun menunggu bis lagi. Iqbal pun melihat segerombolan orang yang sedang menyanyikan lagu-lagu religi. Namun mereka minum-minuman keras. Saat bis datang Iqbal memutuskan untuk tetap disini dan berkenalan dengan gerombolan itu.
Setelah berkenalan, firman meminta uang kepada Iqbal untuk membeli minuman. Parno (sahabat firman) melarangnya. Akhirnya Iqbal akan memberi uang jika digunakan untuk hal yang bermanfaat. Iqbal pun menawarkan ingin membelikan mereka dua buah gitar agar nantinya bisa digunakan untuk ngamen. Ia pun mengeluarkan uang lima ratus ribu dan memberikannya kepada mereka. Terbelalaklah mereka sebab mereka tidak membayangkan Iqbal akan mengeluarkan uang sebanyak itu. Kemudian iqbal pun merasa bahwa mereka mulai ada rasa segan terhadapnya. Iqal pun di ajak istirahat ke rumah Firman.
Ternyata firman merupakan orang yang berkecukupan. Ia berubah menjadi “liar” setelah adiknya diperkosa dan dibunuh. Sejak saat itulah rumah itu penuh kemaksiatan. Ayah dan ibu Firman pun melihat Iqbal sedang sholat Subuh. Mereka sangat senang melihat baru kali ini ada sahabat Firman yang paling aneh, yang mendirikan sholat di rumah mereka. Mereka pun menganggap Iqbal adalah mukjizat dari Allah untuk merubah kehidupan di rumah mereka. Mereka pun meminta Iqbal untuk tinggal di rumah mereka. Iqbal menyetujuinya.
Selama Iqbal tinggal disana, Iqbal memutuskan untuk mengahafal Alquran. Iqbal memutuskan harus mengahafal tujuh ayat perhari sehingga dalam tiga tahun ia dapat menghafal Alquran.
Suatu hari ia berseteru dengan Firman, tentu saja mengenai Islam. Dan Iqbal pun merasa perkataan Firman ada benarnya. Gawatnya, Iqbal pun mulai ragu akan Islam, dan mulai meninggalkan kewajibannya sebagai muslim. Ia pun bingung dan selalu menangis. Suatu sore dan hujan terus mengguyur, ia pun pergi dan berlari untuk mencari gereja. Ia pun masuk dan mengadu sebagaimana seorang kristen melakukan pengakuan.
Kemudian seorang pendeta bertanya padanya, “ada apa anakku?”.
Iqbal pun meminta maaf karena telah mengunjungi Rumah Tuhan yang bukan Tuhannya. Iapun mengatakan bahwa dirinya seorang muslim. Iqbal mengaku tidak sanggup menemukan Tuhannya. Iqbal pun menceritakan masalahnya. Sang pendeta pun mencoba membantu mencari Tuhan yang Iqbal cari.
Kemudian yang tak disangka-sangka, sang pendeta mulai menasihati Iqbal. Sang pendeta mengatakan bahwa Iqbal telah putus asa. Dan putus asa adalah jalan yang terkutuk. Sang pendeta pun mencoba untuk meyakinkan Iqbal terhadap Allah, Tuhannya. Ia pun menyuruh Iqbal untuk meminta ampunan kepada Allah. Iqbal pun menangis. Iqbal tidak menyangka bahwa ada seorang pendeta yang sedemikian bijak bestari, luas wawasannya, dan melintas-batas keyakinannya. Ia pun kembali pulang dengan penuh semangat.
Esoknya, Indri (kekasih Firman) datang ke rumah Firman. Iqbal yang menemuinya (Orang tua firman tidak mau menemuinya). Iqbal pun menasihati Indri agar kembali kepada Allah. Dan secara tidak langsung menasihati Indri agar Indri menjaga kesuciannya. Indri pun menangis dan pergi dengan berlari. Wah, Iqbal pun merasa bersalah tentang apa yang dikatakannya kepada Indri. Namun ia tetap yakin bahwa yang dilakukannya demi kebaikan Indri.
Beberapa hari kemudian, indri datang kembali dengan wajah cerah. Iqbal berharap indri tidak terluka akan perkataannya sebelumnya. Indri pun mengajak Iqbal untuk mencari Firman yang memang sudah beberapa hari tidak pulang sejak berseteru dengan Iqbal. Setelah mencari dimana-mana, Iqbal merasa capek dan minta istirahat. Saat mereka istirahat, indri merayunya. Saat itu pun Iqbal memutuskan untuk pulang.
Sahabat-sahabat Firman pun datang menemui Iqbal, mereka ternyata menemukan Firman. Mereka menemukan Firman sedang rebahan di tempat imam mushala. Firman pun digelandang seperti orang gila. Mereka pun menanyakan apa yang terjadi sebenarnya pada firman l. Iqbal pun mengambil kesimpulan dan mengatakan bahwa firman sedang mendekati Allah. Nah, inilah saatnya Iqbal mencoba mengingatkan mereka tentang Allah. Dan ternyata mereka berniat kembali ke jalan Allah dan meninggalkan kemaksiatan. Subhanaalah.
Dan masalah pun kembali muncul. Ternyata Okta dan Indri bertengkar memperebutkan Iqbal. Iqbal pun takut godaan setan berupa syahwatnya dan berdoa kepada Allah agar lebih baik mengambil kedua matanya itu.
Suatu kejadian buruk pun terjadi. Saat iqbal berada di kamar Firman, Indri pun datang dan masuk ke kamarnya. Indri pun merayunya dan mencoba memeluknya. Iqbal menolaknya. Saat itulah Firman datang dan melihat mereka berdekatan seperti itu. Firman marah dan menyuruh Iqbal pergi dari rumahnya. Firman pun menantang Iqbal di Alun-alun. Firman pun pergi.
Saat itulah Iqbal mulai mengemasi barang-barangnya. Orang tua firman bingung apa yang sedang terjadi. Iqbal pun segera mendatangi alun-alun. Ternyata disana ada Firman dan sahabat-sahabatnya. Firman pun berkelahi dengan Iqbal di hujannya malam. Dan saat Iqbal terjatuh, Firman menyiramkan semangkuk sambal kemata Iqbal . Tinjuan bertubi-tubi pun menyebabkan Iqbal tidak sadarkan diri.
Akhirnya Iqbal pun tersadar, namun Astagfirullah al’adzim, matanya tidak bisa dibuka. Kemudian sahabat-sahabatnya pun datang. Sahabatnya kini tahu masalah yang terjadi. mereka pun membenci Firman atas kelakuannya, namun Iqbal meminta agar mereka tidak membenci Firman.
Suatu hari, Parno pun memberi tahu bahwa yang terjadi pada firman. Firman menyesali semua kesalahan di liang kubur dan mencoba bunuh diri. Iqbal pun segera kabur dari rumah sakit dituntun oleh Parno. Di kuburan banyak orang berkumpul termasuk para wartawan. Iqbal pun mencoba agar kembali kepada Allah dan masih ada waktu untuk bertobat. Setelah sekian lama berdialog akhirnya firman pun sadar dan sejurus kemudian terdengar gemuruh takbir.
Akhirnya kedua mata Iqbal sembuh. Ia pun membaca judul sebuah koran tentangnya: IQBAL MAULANA TELAH SEMBUH KEDUA MATANYA. Iqbal pun mulai membimbing sahabat-sahabatnya. Bahkan Iqbal membentuk sebuah kelompok bersama pengamen lainnya yang bernama Ashabul Kahfi. Berita akan dirinya pun tersiar di berbagai koran. Antara lain judul nya yakni MUSAFIR CINTA – SEBUAH PERJALANAN HATI SEORANG IQBAL MAULANA. Ia pun selalu diwawancarai wartawan.
Ia pun kini telah hapal Alquran. Ia pun memutuskan untuk kembali ke pesantren seperti janjinya kepada kyai sepuh untuk mempersunting seorang atau tiga gadis yakni Zaenab, Pricillia, atau Khaura.
Ia pun diantar keluarga Firman dan para sahabatnya. Ia pun naik bersama keluarga Firman, sedangkan sahabatnya naik sebuah minibus yang bertuliskan ROMBONGAN ASHABUL KAHFI. Iqbal pun merasa sangat senang sekali dan grogi bahwa setelah tiga tahun ini ia akan bertemu kekasihnya. Selamat tinggal Banjarnegara. Selamat tinggal Kenangan. Semoga Allah SWT menjadikan Banjarnegara sebagai kota yang indah dan diberkahi. Amin..
Begitulah perjalanan Iqbal dalam novel Musafir Cinta yang sebenarnya masih banyak adegan seru yang tidak kuceritakan…. kalo mau versi lengkapnya beli novelnya, Cuma Rp38.000 dengan tebal 330 halaman. Dan masih ada kelanjutannya loh di di novel Makrifat Cinta (episode terakhir)…. okey….
Entry Filed under: novel. Tags: musafir cinta, syahadat cinta, taufiqurrahman al-azizy.
Baguss.. itu lah kata yang pertama kali saya ucapkan tatkala selesai membaca novel yang pertama kali cetak pada bulan november 2007. Novel ini ditulis oleh Kang Abik alias Habiburrahman ElShirazy. Novel episode 2 ini tentu saja melanjutkan cerita dari novel Ketika Cinta Bertasbih episode 1 dan bagi saya novel episode 2 ini lebih bagus ketimbang episode pertamanya – bukan berarti episode1 nya jelek, keduanya tetap bagus, cuma yang episode ke 2 ”lebih” bagus. Kenapa saya bisa berkata begitu, karna yang episode 2 ini banyak menceritakan tentang azzam, sedangkan yang episode 1 banyak menceritakan tentang teman-temannya.
Oh ya, sedikit kembali lagi ke episode 1, novel ini berkisah tentang sang tokoh “Azzam” yang kembali dari Khairo setelah menyelesaikan S1 nya selama 9 tahun.. loh kok 9 tahun? Lama amat? Ya memang dia sengaja tidak meluluskan diri (padahal sebenarnya dia pintar) biar bisa tetap jualan bakso dan tempe di sana, yang tentu aja digunakan untuk menghidupi dirinya di Khairo dan adik serta ibunya di Solo. Dia pun membiayai sekolah adik-adiknya. Wah benar-benar keren..
Watak sang tokoh azzam ini bisa dibilang hampir sama dengan tokoh Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Hanya saja, kalau fahri identik dengan ilmu, terjemahan, dan hapalan, kalau azzam identik dengan jiwa enterpreneur. Di kost-kostannya dia pun menjadi kepala keluarga. Dia pun banyak kenalan disana seperti dubes dan sebagainya (tentu saja pelanggan tempe dan baksonya, serta dia pernah menjadi koki dubes saat ada acara reuni). Oh ya disana dia punya teman perempuan yang bernama Eliana (putri dubes) dan dia artis loh, wah diam-diam Azzam suka nih. Tapi mana brani azzam, coz dia juma penjual tempe..
Satu hal yang slalu teringat oleh saya tatkala si Elliana ini menelpon Azzam dan ingin memberi ciuman kepada si Azzam karena telah membantunya menjadi koki di acara ayahnya. Tapi azzam tantu aja menolaknya dan langsung menutup telponnya. Dia berbuat begitu karena 2 hal, yang pertama karena dia males melanjutkan pembicaraan yang udah mulai ngawur dan yang kedua karna dia capek coz dia baru aja pulang dari kerjaannya. Kemudian si Elliana ini merasa tersinggung olehnya, namun keesokkannya Azzam menjelaskan sebaik-baiknya. Eliana pun menyadari akan kesalahannya selama ini..
Oh ya bagian yang paling keren lagi yaitu ketika azzam menolong gadis yang bernama Anna Antalafunisa dan temannya. Ada adegan “action”nya loh kayak di film box office.. jadi gini. Dia kala itu mau beli daging dan keperluan dapur ke –wah lupa tempatnya- naik bis. Di bis ada gadis manis dan cantik bertanya toko buku. Azzam pun memberi tahunya. Kemudian mereka pun berpisah, azzam melanjutkan perjalanan.
Setelah azzam selesai membeli semua yang ia perlukan, ia pun memutuskan untuk naik taxi coz udah kesorean.. dia kemudian melihat gadis yang dikenalnya di bis tadi bersama temannya. Wah ternyata kedua gadis itu sedang menangis. Azzam pun turun dari taxi-nya. Ternyata dompet salah satu dari mereka di copet. Hmm bahkan parahnya lagi buku dan kitab mereka tertinggal di bis karena saat itu mereka berusaha mengejar copet itu.. Azzam pun berfikir, “bagaimana kalau kita mengejarnya?” akhirnya mereka pun mengejar bis tersebut dengan taxi azzam tadi. Kejar-kejaran pun terjadi layaknya kejar-kejaran di film. Akhirnya bis itu pun ketemu. Azzam turun dan meminta bus itu berhenti sejenak karna sang gadis sedang berusaha mencari buku-bukunya. Dan akhirnya ketemu.. wih.. Azzam benar-benar pahlawan. Gadis itu pun bertanya siapakah namamu gerangan?. Namun azzam mengatakan dirinya bernama Abdullah.
Bagian yang menurut saya agak menyedihkan, yakni ketika azzam ingin melamar seorang muslimah yang bernama Anna. Dia belum kenal Anna. Sebelumnya azzam dinasihati supirnya Elliana agar azzam tidak usah mengharap Elliana, karena menurutnya kurang cocok. Azzam begitu kuat imannya, sedangkan Elliana? Oleh karena itu Supirnya Elliana yang saya lupa namanya agar azzam mempersunting Anna saja. Kemudian pak supir pun menceritakan siapakan anna itu. Wah azzam pun semangat, ia pun segera mendatangi seseorang (wah saya lupa, dia mendatangi siapa) untuk melamar anna. Namun apa yang terjadi. Lamarannya ditolak mentah-mentah. Ternyata anna telah dilamar temannya sendiri, Furqan. Azzam pun dibanding-bandingkan dengan Furqan itu.. sungguh memalukan, Azzam hanya S1, itu pun belum lulus selama 9 tahun, dia pun hanya penjual tempe.. sungguh sangat jauh ketimbang Furqan. Saat itu pun dia mulai konsentrasi dengan pekerjaannya itu. Ia tidak akan membuka pintu hatinya sebelum ada gadis yang mengetuknya.
Dan akhirnya adiknya ternyata telah lulus kuliah. Skali lagi, wah benar-benar menakjubkan si tokoh azzam ini, bisa mengkuliahkan adiknya hingga lulus, padahal dia sendiri belum lulus. Setelah tahu akan keadaan adiknya yang telah lulus, azzam pun memutuskan untuk segera pulang. Ia pun belajar dengan giat agar segera lulus. Bayangkan, sudah 9 tahun azzam tidak bertemu dengan keluarganya. Dan akhirnya dia pun berhasil. Ia pun segera bertemu dengan keluarganya.
Itulah sebagian kecil hal yang menarik dari novel Ketika Cinta Bertasbih Episode 1. Bagaimana yang episode 2. Oke, sabar, tapi saya Cuma ceritain sebagian kecil yang menurut saya keren, ok (masih banyak hal yang heren lainnya).
Review Ketika Cinta Bertasbih Episode 2
Azzam pun pulang ke Indonesia. Dan ternyata azzam bareng Elliana, artis terkenal itu. Ya memang keduanya kenal dekat, coz elliana pernah bekerja sama dengan azzam. Adiknya pun segera ke jakarta untuk menjeput sang kakak tercinta. Dan ternyata sang adik adalah penulis Best seller kumpulan cerpen. Wah sungguh hebat keduanya kakak beradik ituh. Husna –adiknya azzam- selain menjeput azzam ternyata ada agenda lain yakni pergi ke TIM untuk menerima penghargaan.
Saat itu azzam pun keluar dari bandara bersama Elliana. Dia pun mencari adiknya disana. Dan akhirnya adiknya ketemu. Husna datang bersama temannya. Ternyata diluar sudah banyak wartawan yang menghadang Elliana, ia pun diwawancarai. Azzam segera meninggalkannya dan menemui adiknya. Setelah puas, temannya husna minta dikenalkan kepada Elliana, karena ia merupakan fans-nya. Lalu ia pun di kenalkan. Akhirnya mereka foto-foto dengan hp temannya itu. Wartawan pun kembali mewawancarai Ellana tentang siapakah yang sedang dekat dengannya saat ini. Elliana pun mengatakan bahwa pria disampingnyalah yang terdekat. Kontan azzam bingung dan kaget. Semua moncong kamera pun mengaah padanya. Ia pun di tanya-tanyai. Azam panik.
“Sejak kapan anda kenal Elliana?” tanya seorang wartawan.
“aduh, ini apa-apaan!” seru Azzam panik.
“santai saja mas. Kita Kooperatif saja jadi enak. Sejak kapan anda kenal Elliana?”
“aduh gimana ini, Eliana, bicara dong. Wah kok jadi rumit begini sih!” kata Azzam kepada Elliana.
“dia tidak biasa menghadapi wartawan. Kami kenal sejak satu tahun yang lalu” sahut Elliana dengan tenang.
“Benar Kamu dekat dengan Elliana?” cerocos seorang wartawan koran ibukota.
“Kebetulan tadi kami satu pesawat dan duduknay berdekatan. Saya di 15F, dia di 15E. Jadi kami memang dekat.” Jawab azzam juga sekenanya.
“apa profesi mas saat ini?”
“Jualan bakso.”
“Ah, jangan bergurau Mas.”
“Sungguh, tanya saja pada Elliana!”
Wartawan itu langsung bertanya pada elliana, “benarkah dia jualan bakso?”
“Ya benar. Para diplomat adalah pelanggannya”. Jawab Elliana
“Wah seorang enterpreneur! Keren ya mbak?” wartawan itu berkomentar.
“Iya dong. Dia pria paling keren yang pernah aku temui” . Elliana pun berbisikkan dengan azzam.
Kemudian azzam pamit pada elliana. Ia menelungkupkan tangan di dada lalu pergi.
“tidak ada cipika-cipiki mas?” tanya seorang wartawan usil.
Azzam tidak menjawab, yang menjawab malah Elliana, “Dia itu mahasiswa Al Azhar Cairo, masak cium pipi kanan pipi kiri. Kan belum halal! Ngerti?”
“wah sekarang pacar Elliana alim ya. Bisa jadi berita menarik “. Komentar seorang wartawan.
Keesokan harinya berita pun menyebar ke seluruh media, entah cetak atau elektronik. Tentu saja di desanya geger, kok bisa azzam yang miskin itu dekat dengan artis seterkenal Elliana bahkan media menganggapnya kalau Azzam merupakan kekasihnya Elliana (padahal sebenarnya bagi azzam elliana hanya sekedar temannya).
Oh ya malamnya acara penghargaan kepada adiknya. Azzam pun menghadirinya. Kemudian Husna pun sampai gilirannya menerima penghargaan itu. Ia pun bercerita bahwa yang bisa menjadikannya seperti ini tak lain adalah kakaknya tercinta, Azzam. Ia pun menceritakan kehidupannya dan kakaknya bahwa kakaknya membanting tulang di mesir selama 9 tahun untuk membiayai kuliahnya dan tidak meluluskan diri. Dan, wah lagi-lagi bertemu elliana, yang ternyata merupakan seorang pembawa acara. Acara itu pun disiarkan ke seluruh Indonesia. Lagi-lagi azzam terkenal. Elliana pun kini lebih banyak tahu tentang azzam, dan kagum akan dirinya.
Tapi apakah Elliana adalah jodoh azzam, bagaimana dengan tokoh gadis yang ditolongnya di bis tadi yang ternyata bernama Anna (azzam belum tahu nama gadis itu).
Itulah sedikit bagian (sudah banyak yang dikurangi) dari novel Ketika Cinta Bertasbih yang sangat menarik bagi saya. Kalau mau kelanjutannya, belilah novelnya. Bukan promosi, tapi sungguh dwilogi ini emang keren…